JAKARTA--MICOM: Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) DKI Jakarta melakukan sidak (inspeksi mendadak) di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/7). Dalam sidak itu, Badan POM DKI menemukan makanan yang mengandung bahan berbahaya.
More to ... Awas, Mi Juhi dan Krupuk Mi Mengandung Boraks dan Formalin
JAKARTA--MICOM: Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) DKI Jakarta melakukan sidak (inspeksi mendadak) di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/7). Dalam sidak itu, Badan POM DKI menemukan ...
Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengingatkan agar masyarakat berhati-hati karena saat ini jajanan yang berbahaya bagi anak-anak masih beredar di sekolah dan di pusat hiburan.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Hati-hati bila anak membeli jajanan makanan di sekolahan atau tempat-tempat hiburan anak-anak. Bila tak teliti, jajanan itu bisa mengandung zat kimia berbahaya yang terlarang untuk ...
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) semakin memperketat pengawasan terhadap makanan minuman, karena boraks dan formalin diyakini tetap mengancam masyarakat pada tahun 2011, kata Deputi 3 BPOM, Roy ...
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Sebanyak 70 sampel milik pedagang takjil di Pasar Bendunganhilir (Benhil), Tanahabang, Jakarta Pusat, diuji petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta. ...
bila jajanan mengandung boraks terus menerus dikonsumsi akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak dan ginjal.
Sebanyak 22 sampel tahu yang diambil dari sejumlah pedagang beberapa pasar tradisional oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang, Sumatera Selatan, terbukti mengandung formalin setelah dilakukan pengujian di ...
Nata de coco alias sari kelapa banyak diminati sebagai minuman segar, terutama di bulan puasa. Karena tinggi serat dan rendah lemak, sari kelapa baik untuk pencernaan. Namun, sebaiknya waspada karena ada ...
Gorengan bisa renyah kabarnya karena minyak gorengnya dicampur plastik. Kabar itu dibantah oleh BPOM, tapi kalau yang mengandung boraks diakui makin banyak dan efeknya sama-sama bikin renyah.
Badan Karantina mengakui telah menemukan 19 penyakit dan unsur berbahaya yang terkandung dalam sampel buah impor yang diperiksa selama 2 tahun terakhir.